Hidup Itu Indah
Ditulis pada tanggal 22 Juli 2009
Kalimat itu rasanya banyak sekali didengar dari sana, dari situ, bahkan dari dalam diri seseorang yang secara duniawi tampak sangat menderita namun selalu ingat untuk bersyukur atas apa pun yang telah ia terima. Walau begitu terkadang alpanya rasa syukur dalam hidup, sedikit demi sedikit mengeraskan hati kita, hingga pada suatu saat kita tergugah atas apa yang kita lakukan.
Pada suatu malam ketika akan tidur entah mengapa di atas kasur kok banyak sekali semut. Semut-semut itu berjalan dari samping almari, secara rapi berbaris berjalan menuju tempat sampah. Karena kebetulan saya masih punya "kapur ajaib" maka saya ambillah kapur itu, kemudian me-ngerik-nya menggunakan penggaris, dan menaburkan bubuknya di atas barisan semut itu. Beberapa saat kemudian gerakan-gerakan kecil itu berhenti. Saya ambil kamera saya, kemudian saya potret.
Sambil memotret, saya melihat beberapa semut yang masih hidup yang bergerak tersiksa. Orang jawa bilang kejet-kejet. Sedih rasanya melihatnya. Saya teruskan memotret hingga saya dapat beberapa gambar. Memang gambar yang saya peroleh tidak jernih, tidak bagus, karena memang ruangnya tidak seberapa terang. Walau begitu ketika melihat hasilnya saya trenyuh, menyesal. Lihat saja foto di bawah. Semut-semut itu bergelimpangan bak mayat di medan perang.
Ada yang mati dengan posisi 1/2 berdiri. Ada yang terbaring miring. Ada yang telentang.
Diam, mati bertiga tanpa bisa menghindar dari bubuk kapur yang saya tebar.
Sementara itu masih ada yang hidup, berjalan tertatih-tatih ke kanan ke kiri, mungkin mencari penyelamat.
Bergelimpangan tak karuan, mati kaku.
Ketika foto yang di atas ini saya ambil, kakinya masih sedikit bergerak.
Seolah-olah yang di tengah berkata kepada rekannya: "lanjutkan perjuanganmu, aku hanya bisa menemani sampai di sni."
Sedih sekali. Tak kusangka bahwa dengan melihatnya saya jadi benar-benar sedih dan menyesal. Seharusnya saya tak punya hak untuk merampas kehidupan ini dari mereka, walau mereka hanya semut. Hewan kecil yang rasanya hampir setiap hari ada bersama kita di mana pun kita berada.
Inikah pengingat kepadaku tentang indahnya hidup? Inikah pesan larangan menyiksa yang disampaikanNya untukku?
Jangankan manusia yang kena bom, kena tembak, kena santet, kena bacok, kena tabrak, dan sebagainya. Melihat semut saja seperti ini rasanya. Jangan membunuh, terlebih lagi menyiksa. Terlepas dari betapa susahnya kita menjalani hidup ini, gambar-gambar di atas telah mengajarkan kita untuk meresapi bahwa hidup itu indah!
Timpalan tulisan
(tampaknya) manusia dari bumi - 28 Jun 2010
gambar semut yang ke-3 bagus, dan hidup itu ternyata indah. Selanjutnya membuatnya tetap indah. Terima kasih telah membuat cerita indah.
muhammad yuqi - 28 Jul 2009
touch, very...
wawa - 22 Jul 2009
fotonya bagus.
Timpali tulisan
- Colongan Berita (rss feed)
- Compworld Security
- Debian Admin
- Debian Package OTD
- Debian Security
- Detikcom
- Distro Watch
- Kompas
- Linux Review
- OS News
- SlashDot Linux
- Viva News
- Para Tetangga
- Agus Priyadi
- Akhmad Suaidi
- Anton Yulianto
- Arinet
- Asfihani
- Budi Wijaya
- Dani Wafaul Falah
- Daniel Morgan
- David Suhendrik
- Dhidhel
- Eszy Filiani Poespo
- Galih Satriaji
- Henning TC
- Impianti WU
- KLAS
- Kiki Ahmadi
- M. Yuqi
- Menik
- Nanin Wailisahalong
- Nina
- Noor Al Azam
- Nur Aini
- Paejo
- Rivai
- Ronnie Muhadi
- Sari Rachmatika
- Satpam Bobo
- Tommy Pranasta