Di rumah, di kamar atas — dipotret oleh Galih Satriaji *)
Kamas Muhammad | kamas@lc.vlsm.org

Selamat Berpuasa, Saudara!

Ditulis pada tanggal 07 September 2009

Tak terasa, bulan puasa tahun ini sudah kita lewati setengahnya. Saat ini saya yakin kita semua semakin getol berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa mencari "sesuatu" sebagai bekal kita untuk bisa sukses memperoleh manfaat dari bulan yang penuh rahmat, yang Insya Allah datang sekali dalam setahun. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, dan menggolongkan kita semua sebagai orang-orang yang bertaqwa.

Saya merasa bahwa aura ramadhan melingkupi seluruh aktifitas kita kecuali di satu bagian, yaitu "jalan raya". Anda boleh saja tidak setuju dengan saya. Pada awal bulan puasa saya sempat bergumam: "Apa orang-orang di jalan secara ajaib jadi adhem ya?" Ternyata sejauh pengamatan saya kok tidak. Kebetulan saya punya selera berkendara dengan kecepatan menengah ke lambat, kalau tidak kepepet. Syukurlah, selama puasa ini saya belum pernah kepepet. Akibatnya jelas: Saya sering panen suara klakson, plus bonus dipotong dan tentunya dipepet. Pada awal puasa saya malah sukses dua kali hampir ditabrak dan dapet umpatan gara-gara sejenak melambat untuk sedikit memberi jalan pada barisan kendaraan di sebelah kanan saya.

Kenapa ya kok harus begitu? Toh kita semua tahu, bahwa di tengah kemacetan, dengan mengalahnya pengendara di depan kita, yang kita peroleh hanyalah tambahan lengang paling lama dua detik untuk maju paling jauh tiga meter. Apakah itu perolehan yang pantas atas gagahnya klakson kendaraan kita? Apakah tiga meter itu imbalan yang pantas untuk jerih payah kita mengusir kendaraan di depan kita? Yang lebih penting lagi: "Apakah kita masih benar-benar berpuasa?" Tentunya bukan saya yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Pertanyaan yang kini muncul di kepala saya adalah: "Sabarkah saya menghadapi kondisi ini, atau apakah saya pasrah? Adakah beda antara sabar dengan pasrah?"

Ah, sudahlah. Andai terjawab pun, tetap saja tidak ada untungnya buat saya dan mereka. Saya cuma bisa berdoa agar kita semua senantiasa dilindungi dan memperoleh barokahNya.

Akhir kata: "Selamat puasa, Saudara!"

 

 

Timpalan tulisan

Timpali tulisan

Nama
Komentar
  [Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
  Tuliskan kode di atas di isian ini:
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor
Kalau dilihat dari kuku jempol... Ah... Dunia khayal...

Ha? Apa? XHTML? Halah prek! Gelem wacanen, ndak gelem tinggalen :P