Terjemahan Bahasa Asing

Ditulis pada tanggal 07 April 2013

Bahasa punya ruh. Menerjemahkan kalimat dari sebuah bahasa ke bahasa lain seharusnya tidak bisa dilakukan kata-perkata karena perbedaan ruh itu. Sebagai contoh, suatu benda dalam bahasa Jerman memiliki jenis kelamin. Konsep itu tidak dikenal dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kemudian ada pula aturan tentang penggunaan kata ganti. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang seringkali penerjemahannya tidak diperhatikan dengan baik.

Contoh sederhananya misal kalimat "I have many books. They open my eyes to see the world." Kalimat itu banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Saya punya banyak buku. Mereka membuka mataku untuk melihat dunia." Yang mirip-mirip dengan itu banyak sekali. Apa yang salah dengan terjemahan itu? Yak, penggunaan kata mereka. Kata ganti orang ketiga jamak dalam bahasa Indonesia tidak ditujukan untuk benda tak hidup, sehingga seharusnya kalimat tersebut diterjemahkan "Buku-buku itu membuka mataku untuk melihat dunia." Model terjemahan begini bisa ditemui dengan mudah, misal pada film anak-anak seperti Barney atau Strawberry Shortcake.

Bagi orang-orang dewasa mungkin terjemahan semacam itu tidak menimbulkan masalah. Tapi bayangkan kalau kalimat-kalimat salah ruh semacam itu dikonsumsi setiap hari oleh anak-anak. Perlahan tapi pasti akan terbentuk di benak mereka bahwa kalimat begitu itu normal. Tidak ada yang salah. Dengan kebiasaan penerjemahan semacam itu bisa dipahami mengapa tata bahasa Indonesia anak-anak jaman sekarang cukup memprihatinkan. Jangankan anak-anak, yang dewasa saja sering sekali mengaduk "kami" dan "kita" dengan santainya. Belum lagi penggunaan kata-kata semacam destinasi dan sebagainya. Perlahan tapi pasti, kita semakin memiskinkan bahasa Indonesia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pernah menyatakan bahwa nilai terrendah pada Ujian Nasional adalah pada pelajaran Bahasa Indonesia, terutama di kota-kota besar. Kalau gejala-gejala semacam ini terus berlangsung, maka niscaya bahasa Indonesia akan menjadi "bahasa asing" di negeri sendiri. Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

 

Timpalan tulisan

Timpali tulisan

Nama
Komentar
Tebakan Kode
[Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
 
[TWTR] [FB] [GPLUS]
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor. Jangan pernah mencoba membaca isinya pakai kuku atau barang-barang klenik lainnya.
kamas@its.ac.id