Tepuk Tangan: Perlu Dua Tangan

Ditulis pada tanggal 09 Januari 2014

Beberapa waktu terakhir banyak gonjang-ganjing tentang kualitas siaran televisi kita. Medianya macam-macam. Ada yang di jejaring sosial, ada di televisi, ada juga di obrolan sana sini entah itu dari teman kerja atau tetangga. Yang dibicarakan juga macam-macam. Mulai joget tujuh bulan yang semakin garing dan memancing anak-anak untuk buka retsleting celana, ada juga yang cerewet tentang adegan siram bedak lempar tong dan kekejaman lainnya, ada gambar kartun yang menyindir gosip, dan banyak lagi lah yang lain. Tentang Sinetron, lalu serial aji-aji sukmo modar, saya juga salah satu orang yang ndak doyan juga.

Sebenernya yang bikin saya eneg itu bukan soal acaranya, tapi di soal tanggapannya. Orang-orang yang kontra terhadap acara-acara itu bicaranya (hampir) selalu menghujat kenapa kok televisi bikin acara yang bla bla bla. Di lain pihak, yang pro terhadap acara-acara begitu seringkali bilang bahwa acara begitu itu masih lebih bagus daripada melihat sinetron kenegaraan yang konon katanya sudah carut marut ndak karuan ini. Selain itu mereka bilang bahwa toh acara-acara begitu itu ratingnya tinggi, artinya masyarakat suka.

Saya tidak berharap bahwa kedua pihak itu dipertemukan untuk bicara satu meja. Saya cuma merasa geli saja melihat cara mereka bicara seolah-olah masalah yang mereka hadapi ini hanya disebabkan dan bisa bersolusi di satu sisi. Orang-orang pinter itu kok tampaknya sengaja menafikan bahwa untuk bertepuk tangan, kita perlu dua tangan. Ini lingkaran setan. Ada kail ada umpan. Tidak hanya yang A, yang B pun sama busuknya. Kalau toh maunya melakukan perbaikan (entah apa definisi mereka tentang perbaikan) jelas lah sudah kalo dengan bicara-bicara gini terus, ya masalahnya bakal terus menggantung.

Protes terhadap omongan-omongan itu? Tidak, saya tidak protes. Sama seperti mereka yang di tulisan ini saya nyinyir-i, saya sekedar mengungkapkan kebosanan saya saja mendengar omongan-omongan para ahli itu.

Andai saja saya semua bisa seperti Gus Dur yang bisa bilang "gitu aja kok repot", pasti saya tinggal matikan televisi, tak perlu baca orang-orang nyinyir, selesai. Kalau ada yang rame-rame, saya tinggal mempertemukan tangan kanan dan kiri, lalu menepuk-nepukkannya :D

Saya jadi setuju dengan tweet kawan lama saya. Dalam peristiwa ini, sebenarnya korban terbesarnya adalah pegawai KPI yang suka atau tidak harus menonton acara-acara itu. Duka citaku untukmu.

 

Timpalan tulisan

Timpali tulisan

Nama
Komentar
Tebakan Kode
[Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
 
[TWTR] [FB] [GPLUS]
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor. Jangan pernah mencoba membaca isinya pakai kuku atau barang-barang klenik lainnya.
kamas@its.ac.id