Kalau Internet Cepat Mau Dipake Buat Apa?

Ditulis pada tanggal 30 Januari 2014

Buat saya kok ini pertanyaannya menarik. Bukan karena banyaknya jawaban yang bisa diberikan, tapi saya menangkap ada maksud lain yang juga bisa digali dari pertanyaan yang kalau dilihat dari berbagai berita (dan tweet banyak orang) sore ini berkesan blo'on. Saya kok merasa bahwa sebenarnya kalimat ini bukan pertanyaan, tapi lebih kepada ajakan untuk merenung, bercermin, dan berusaha secara obyektif menilai diri kita sendiri.

Di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, ponsel saya yang umurnya enggak muda dan enggak tua ini bisa dapet transfer rate rata-rata sekitar 3 mbps. Ditinjau dari sudut pandang konsumen, apakah ini lambat? Ya memang jawabannya bakal beda untung semua orang. Buat saya misalnya, jauh lebih milih delay sekecil-kecilnya biar nyaman ber-SSH walau mungkin bakal emosi nunggu lamanya donlotan lagunya Eny Sagita. Tapi toh ya dengan koneksi 3 mbps yang saya punya ini, jangankan Eny, ditambah lagunya Wiwik Sagita sealbum juga masih terasa oke (Wiwik Sagita punya album kah?)

Saya mungkin salah. Tapi kalau saya melihat orang-orang di sekeliling saya yang rentang umurnya antara 15an sampai 60an, sebagian besar di antara mereka kok rasanya enggak bener-bener butuh cepet ya. Anggap saja cepet itu lebih dari 1 mbps. Anak-anak SMP yang mainnya facebook dan twitter, relatif masih oke untuk jalan di kecepatan < 256 kbps. Yang agak tuaan dikit, 20-50an, BBM, Whatsapp, surel dan semacamnya, masih oke juga dengan kecepatan segitu. Lebih tua lagi, 50-60, relatif butuh kecepatan sedikit lebih tinggi, misal di sekitar 512 kbps untuk sering-sering nerima foto cucunya. Ok lah, video juga, masih lumayan oke lah dengan 1 mbps.

Nah, bagaimana dengan pelaku usaha yang musti punya situs web dan semacemnya? Bagaimana pula dengan ngantor at home yang meeting-nya lewat skype? Atau bagaimana pula ketemuan antar lembaga yang konon bisa hemat milyaran rupiah kalau pakai model-model vicon h323/sejenisnya? Ya memang untuk mereka-mereka itu butuh kecepatan lumayan tinggi, misal 20 mbps. Di tempat-tempat berkumpulnya usaha/aktifitas semacam itu, udah enggak ada lagi cerita internet lambat. Di tempat-tempat seperti itu akses internet 20 mbps sudah terasa sangat biasa. Kantor saya saja yang pemakai internetnya ndak sampe 10 orang, internetnya ada 2 koneksi dengan kecepatan 10an mbps. Mantan kampus saya sekarang kalo enggak salah denger udah di angka 300an mbps. Tapi kalau dilihat dari total penikmat internet Indonesia, presentasenya berapa sih? Apa benar bahwa kita seeeemuaaaaa bener-bener butuh internet dengan kecepatan 10 mbps?

Kalau di kota-kota kecil pinggiran bagaimana? Misal yang di pesisir pantai di pulau timur Indonesia? Kadang di situ memang saya merasakan bahwa di sana internet enggak jalan. Bahkan untuk bisa dapet koneksi data duaji aja susah setengah mati, boro-boro triji. Akan tetapi dalam kasus itu kebetulan saya lebih memandang bahwa yang perlu dibenahi adalah stabilitas dan pemerataan ketersediaan jaringan. Bukan soal kecepatan.

Kembali ke pertanyaan yang tampaknya blo'on itu. Kalau memang internetnya sudah cepet, mau kita pakai buat apa? Untuk kita-kita individual, berapa sebenarnya kecepatan yang kita perlukan? Dengan jaringan E di hape, grup BBM sudah sangat berisik. Dengan tulisan H di hape, foto narsis dan foto makanan senantiasa terbarui di facebook dan twitter. Salah satu yang mungkin ekstrem: Dengan tulisan E di hape, saya nginstall cacti, patch plugin arch, dan memasukkan perangkat-perangkat yang dimonitor ke dalamnya (maaf, sedikit congkak :P). Seberapa cepat sih yang sebenarnya kita (individu umum) butuhkan? Lagipula cepat bagi saya mungkin masih lambat buat anda. Tapi pasti kita sama-sama sepakat kalau end-to-end rtt di mana pun kita berada senantiasa kurang dari 40ms, itu bisa kita bilang stabil (iya, ini gebyah uyah).

Saya tidak akan pernah tahu apakah Pak Menteri itu bertanya begitu dengan sudut pandang yang sama dengan sudut pandang saya, tapi saya lebih seneng memandang dari sudut ini karena akan ada hal-hal yang bisa kita renungkan. Buat saya sih memang sebenernya tidak pantas kalau menteri melempar pertanyaan semacam itu ke publik. Buat saya tidak seberapa sopan, dan berkesan naif, menganggap rakyatnya ini blo'on semua. Tulisan saya salah? Ya iya lah, lha wong saya enggak tau sudut pandang dia gimana he..he..he..

Doa saya, semoga di sisa jabatannya ini, Pak Menteri bisa mendongkrak sebaran dan stabilitas internet Indonesia. Semoga Pak Menteri bisa makin bijak kalau mau melempar pertanyaan ke publik lagi. Semoga kalau internetnya sudah stabil, kecepatannya juga bisa makin baik, biar makin seneng main-main torrent :)

 

Timpalan tulisan

galih - 25 Feb 2014

wis sido ganti kocomoto ? :D

 

Tiga - 23 Apr 2014

http://tekno.kompas.com/read/2014/01/30/1512510/menkominfo.kalau.internetnya.cepat.mau.dipakai.buat.apa

Dari link tsb, kita tau dia mengutarakan pendapatnya dg disertai banyak alasan. Itu artinya dia malas mengusahakan menaikkan kecepatan inet di indonesia. Karena ciri2 pemalas itu cuma 1: kebanyakan alesan!

 

Timpali tulisan

Nama
Komentar
Tebakan Kode
[Kode Huruf] Ndak bisa dibaca? klik di sini.
 
[TWTR] [FB] [GPLUS]
Seharusnya situs ini kelihatan bagus kalo anda lihat menggunakan layar monitor. Jangan pernah mencoba membaca isinya pakai kuku atau barang-barang klenik lainnya.
kamas@its.ac.id